Sabtu, 18 Januari 2014

TENTANG RINDU


Udara memasaikan dingin, keheningan bermain-main di anak rambutku.
Angin menyelinap masuk, membawa sunyi menembus kalbu.

Ada yang tercecer di jalan ini, seperti kenangan, seperti harum parfummu yang menguar - menguasai hidungku.
Aku mengenalinya, umpama mengenal seribu wajah yang sesekali tersenyum lalu tertunduk murung di trotoar, di bawah lampu jalan, di balik etalase toko - menawarkan mimpi.
Dan seketika itu aku merasakan rindu itu teramat dekat dengan tubuhku.

Rabu, 15 Januari 2014

BELAJAR DARI CINTA YANG TAK TERBALAS



"Mesksipun nanti di puncak kau tak bersama denganku, tetapi aku akan selalu menemanimu menuju puncak".


Aku tak peduli sudah beberapa kali kau labuhkan hatimu pada lelaki selain aku. Aku tak peduli kau pernah bercerita tentang kisah lelaki yang kau cintai. Aku tak peduli kau pernah bergandengan tangan dengan lelaki itu di hadapanku. Aku tak peduli nantinya kau akan bersanding dengan siapa. Aku tak peduli kau mencintaiku ataupun tidak, yang aku tahu aku begitu mencintaimu kini, entah sampai batas waktu yang tak ingin kuakhiri.

Selasa, 14 Januari 2014

AKHIR BAHAGIA



Aku tertatih, melewati jalan terjal bebatuan. Aku terseok, melewati setapak sempit yang penuh dengan ilalang. Terluka oleh duri, tersengat serangga, bahkan bebatuan menggores luka pada lututku. Aku sudah biasa bertegur sapa dengan luka. Biarkan aku bertahan di jalan ini, meski sakit yang selalu kutemui, tenang saja aku selalu menemukan penawar luka.


Aku menatap hamparan padang pasir, terlalu kering. Tak akan kutemukan air di sini, hanya terik yang kurasa. Panasnya semakin menyayat kulit, membuka pori-pori yang mulai terasa perih. Duri-duri kaktus menyapa telapak kaki yang masih halus. Debu berhamburan menyerbu muka yang nampak berseri. Angin berhembus menyentuh relung yang mulai berapi, selalu ada kesejukan di balik panasnya suasana.

Minggu, 12 Januari 2014

RUMIT


Entah aku tak mengerti dengan apa yang kurasa. Andaikan ada translator isi hati, minta tolong artikan isi hatiku. Hati selalu saja rumit, bahkan si empunya pun tak mampu menaklukannya. Jadi janganlah sok tahu dengan isi hati orang lain.

Ada benang-benang tercecer di sana, dan aku tak mampu merapikannya, sudah terlalu ruwet nampaknya. Menatapnya pun enggan, bagaimana mungkin aku akan memintalnya. Ah biarkan saja berserakan selamanya, batinku. Sampai kapan akan kau biarkan semua itu berserakan tak karuan, sebagian batinku yang lain mengelak. Bahkan batinku berdebat sendiri. Rumit.

Rabu, 08 Januari 2014

MERACAU #1

 
Kali ini aku membenci malam, karena ia berhasil menumbuhkan bunga yang sudah layu - tak lagi layak hidup. Aroma tanah pun tercium, hujan menyuburkan kembali tandus. Terlihat ada sorot lampu menyilaukan, menampakkan indah kelopak bunga. Akar-akarnya semakin kuat menopang. Ah semakin tumbuh subur rupanya.

Angin membawa kembali aroma parfummu yang sudah kuhilangkan dengan susah payah, aroma parfum yang selalu menempel pada selendang yang kukenakan - ketika jumpa denganmu. Dari dulu air tak pernah bisa menghilangkan noda yang kau tinggalkan, disiram berkali-kali pun masih jelas terlihat noda yang sama. Sepasang sepatu masih terpampang pada rak sepatu, selalu kubiarkan pada posisi yang sama - ada bekas lumpur di sana, tak pernah kucoba untuk membersihkannya. Biarlah aku tetap mengingat setiap bercak yang kau ciptakan, tetapi heran juga mengapa aku begitu menikmati, meski tahu hanya kotor yang kupandang.

Selasa, 07 Januari 2014

TENTANG KENANGAN


 Ada tawa terekam jelas, terlihat bocah bebas berlarian, membawa seikat bunga impian nan cantik.
Ada tangis sesekali terlintas, tampak sosok wanita menangis, menggenggam harapan kosong.

Kusimpan baik-baik semua memori, dalam peti berhiaskan angan.
Kupendam perlahan semua mimpi, dalam tanah beralaskan harapan.

Sabtu, 04 Januari 2014

TENTANG LUKA


Langit menghitam, meleburkan tawa menjadi kelam.

Janganlah dulu menangis, aku tak sanggup mengusap air matamu. 
Jemariku sedang terluka, tergores perih masa lalu.

Lukaku masih lebar menganga, 
bagaimana mungkin aku mampu mengobati lukamu.
Aku terlalu sibuk menyembuhkan lukaku sendiri.