Rabu, 08 Januari 2014

MERACAU #1

 
Kali ini aku membenci malam, karena ia berhasil menumbuhkan bunga yang sudah layu - tak lagi layak hidup. Aroma tanah pun tercium, hujan menyuburkan kembali tandus. Terlihat ada sorot lampu menyilaukan, menampakkan indah kelopak bunga. Akar-akarnya semakin kuat menopang. Ah semakin tumbuh subur rupanya.

Angin membawa kembali aroma parfummu yang sudah kuhilangkan dengan susah payah, aroma parfum yang selalu menempel pada selendang yang kukenakan - ketika jumpa denganmu. Dari dulu air tak pernah bisa menghilangkan noda yang kau tinggalkan, disiram berkali-kali pun masih jelas terlihat noda yang sama. Sepasang sepatu masih terpampang pada rak sepatu, selalu kubiarkan pada posisi yang sama - ada bekas lumpur di sana, tak pernah kucoba untuk membersihkannya. Biarlah aku tetap mengingat setiap bercak yang kau ciptakan, tetapi heran juga mengapa aku begitu menikmati, meski tahu hanya kotor yang kupandang.

Selasa, 07 Januari 2014

TENTANG KENANGAN


 Ada tawa terekam jelas, terlihat bocah bebas berlarian, membawa seikat bunga impian nan cantik.
Ada tangis sesekali terlintas, tampak sosok wanita menangis, menggenggam harapan kosong.

Kusimpan baik-baik semua memori, dalam peti berhiaskan angan.
Kupendam perlahan semua mimpi, dalam tanah beralaskan harapan.

Sabtu, 04 Januari 2014

TENTANG LUKA


Langit menghitam, meleburkan tawa menjadi kelam.

Janganlah dulu menangis, aku tak sanggup mengusap air matamu. 
Jemariku sedang terluka, tergores perih masa lalu.

Lukaku masih lebar menganga, 
bagaimana mungkin aku mampu mengobati lukamu.
Aku terlalu sibuk menyembuhkan lukaku sendiri.

Jumat, 03 Januari 2014

LORONG MISTERI



Aku ingin bercerita;
tentang lorong yang setiap hari kulewati
tentang jalan yang setiap waktu kujajaki
tentang puncak yang selalu ingin kudaki.

Rabu, 01 Januari 2014

PESTA KEMBANG API



SURAT-SURAT HUJAN



Apakah hujan ini pertanda tangisan langit?

Hujan selalu meninggalkan sisa air mata, yang pada akhirnya selalu dibiarkan mengering dengan sendirinya.

Perempuan itu mengetupkan matanya. Merasakan betapa hujan senantiasa hinggap sebagai gigil di dada. Di tangannya sepucuk surat rindu tak pernah habis terbaca. Apakah, apakah yang lebih luka dari penantian sia-sia?

Selasa, 31 Desember 2013

HUJAN DI PENGHUJUNG DESEMBER


Selamat pagi rintik hujan. Hujan yang selalu membawa harapan yang sama, namun jalan ceritanya kini telah berbeda. 

Hujan seringkali mempertemukan kita, dalam untaian kata yang saling menyapa. Aku menyapa diammu, kamu menyapa heningku.

Kita sama-sama memilih bungkam. Menyembunyikan segala rasa, bersembunyi di balik cerita bersama hujan.