Jumat, 16 Mei 2014

SEANDAINYA


Seandainya.

Seandainya aku berkuasa atas apa-apa yang kurasa.
Akan kubunuh rasa yang mampu melumpuhkan ingatan.
Akan kubangkitkan rasa yang mampu membuatku terbang melayang.
Namun aku hanyalah budak perasaan yang hanya mampu menengadahkan tangan,
memohon yang terbaik untuk ruang kosong yang tersisa.
Berharap ada sosok elok yang sering menengok, 
mengetuk pintu yang tak pernah terketuk.

Kamis, 15 Mei 2014

MENYAPA (LAGI)





Tepat sebulan sudah aku mengabaikan blog ini. Rasanya seperti ada yang hilang, aku tak bisa mengekspresikan apa yang kurasa. Menulis sejatinya sebagai obat dari segala kegelisahan. Hasrat menulisku perlahan menghilang, tergantikan oleh kegelisahan perasaan yang tak mampu terungkapkan. Jemari seolah kaku, tak mampu lagi merangkai kata. Bibir hanya membisu, membungkam segala isi hati yang bergejolak. Diam bukanlah obat dari segala gundah. Emosi yang semakin menggunung sudah butuh amunisi, meledakkan segala atom perusak pikiran dan perasaan.

Ketika aku tak sanggup menuliskan apa yang kurasa, di saat itulah sebenarnya aku tersiksa. Termenung pada kejadian-kejadian yang tersusun, terpaksa menikmati segala yang bukan dari hati. Hati seolah dipaksa bungkam, menuruti setiap rentetan tragedi yang entah tak pernah kutahu diamanakah muaranya. Aku bukanlah pecundang yang hanya bisa bersembunyi, seolah tak peduli dengan segala yang terjadi. Seperih apapun yang terjadi, aku akan selalu mengikuti, menjalani meski tak menikmati.

Kemanapun aku pergi, pada akhirnya aku pasti kembali. Kapanpun aku bisa bersembunyi, namun jika waktunya tiba aku akan kembali menyapa. Menyapa apa-apa yang tak mampu kulupa.